Home   Article   “Jadilah Rendah Hati, Bukan Rendah Diri”

“Jadilah Rendah Hati, Bukan Rendah Diri”

Kerendahan-Hati

“Ah, aku ini kan rendah hati. Aku nggak bisa apa-apa. Aku nggak sejago si Koko kalau main basket. Nggak sepintar Dita di kelas.”

Ups, apakah itu yang dimaksud dengan anak yang rendah hati? Yuk, kita lihat…

Rendah hati itu…

Rendah hati sangat berbeda dengan rendah diri. Rendah diri berarti merasa tidak mampu, kurang percaya diri dan merupakan kelemahan. Sebaliknya, rendah hati justru merupakan kekuatan. Rendah hati artinya adalah sifat yang tidak sombong atau tidak angkuh. Anak yang rendah hati dapat terlihat dari ucapannya sehari-hari, bagaimana ia memperlakukan orang lain dan bagaimana ia melihat dirinya sendiri.

Mengapa kita harus rendah hati?

Kita harus rendah hati karena Tuhan meminta kita untuk melakukannya. Tuhan mengasihi anak-anak yang rendah hati. Selain itu, rendah hati juga dapat menjadi permulaan dari sifat-sifat baik lainnya. Rendah hati membuat kita dapat bersyukur, bersukacita dan lebih bijaksana. Orang yang rendah hati juga akan lebih dihormati daripada orang yang sombong. Saat kita bersikap rendah hati, itu menunjukkan bahwa kita mampu mengasihi orang lain.

Bagiamana caranya agar kita bisa menjadi anak yang rendah hati?

  • Mengenal dan menerima diri sendiri. Kita harus menyadari kelebihan dan kekurangan yang kita miliki dengan demikian kita dapat menerima kelebihan orang lain dengan tulus. Misalnya, mungkin kita tidak pandai dalam berhitung, tapi kita bisa menari dengan baik. Tidak perlu selalu membandingkan diri dengan teman dan merasa sedih karena tidak sehebat mereka. Tiap anak hebat dalam bidangnya masing-masing. Dengan demikian, kita dapat saling membutuhkan dan membantu. Kekurangan kita dapat menjadi kekuatan.
  • Hebat dalam bidang yang dikuasai tetapi tidak menjadi sombong. Kita mungkin memiliki kemampuan yang luar biasa. Misalnya bernyanyi, melukis, pandai dalam pelajaran dan yang lainnya. Kita sering mendapatkan pujian dari orang lain atas kemampuan kita. Saat dipuji, ucapkan terimakasih. Bersyukurlah atas penghargaan itu tapi jangan merasa kitalah yang terhebat. Tetaplah ingat bahwa semua yang baik pada diri kita adalah pemberian Tuhan.
  • Tidak suka pamer, batasi pembicaraan tentang diri sendiri. Kita mungkin memiliki banyak barang yang bagus atau punya pengalaman yang orang lain tidak miliki, misalnya pengalaman ke luar negeri. Jika ingin berbagi cerita, lakukanlah dengan cara yang menyenangkan, tidak membuat orang lain iri hati. Sebaiknya kita tidak terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri saat mengobrol dengan orang lain. Dengarkan juga orang lain dengan penuh perhatian.
  • Menghargai dan ramah pada semua orang. Kita dapat memberikan senyum dengan tulus, lebih dahulu menyapa dan mempertimbangkan perasaan orang lain. Hormatlah pada semua orang, termasuk yang membantu kita dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya supir dan asisten rumah tangga di rumah. Saat perlu pertolongan, mintalah dengan sopan dan ucapkanlah terimakasih. Ingat, seberapa pun hebatnya kita, selalu ada hal baik yang kita bisa pelajari dari orang lain.
  • Mau mengakui kesalahan dan siap meminta maaf. Saat menerima kritik, periksalah diri kita. Setiap orang bisa salah dan bisa memperbaiki diri. Orang lain akan lebih senang jika kita mengakui dan meminta maaf.

Suciria Kristiny. Guru Bimbingan dan Konseling SDK 2.

Gambar: http://purwoudiutomo.com/wp-content/uploads/2013/07/

 

Share